Merasa Berduka Sendirian Setelah Berkumpul dengan Keluarga?
Benar kata orang, salah satu hal yang paling menyakitkan adalah ketika kita terluka oleh orang-orang yang kita sayangi.
Rasanya begitu menyakitkan, ya. Mereka yang kita harapkan paling mengerti kita, justru terkadang menjadi orang yang paling sulit memahami kita.
Kita merasa mereka jahat. Jahat sekali, bahkan. Namun, bisa jadi, di mata mereka, justru kitalah yang jahat.
Kita sering lupa bahwa dalam cerita orang lain, kita pun bisa menjadi tokoh yang jahat.
Bagaimana maksudnya?
Ketika kita menjadi tokoh utama dalam cerita kita sendiri, orang lain bisa tampak sebagai sosok yang menyakiti kita. Namun, ketika orang lain menjadi tokoh utama dalam ceritanya, bisa jadi kitalah sosok yang menyakiti mereka.
Lantas, apakah tidak ada orang yang benar-benar baik di dunia ini?
Bukan begitu. Mungkin kita hanya perlu menyadari bahwa setiap orang melihat sesuatu dari sudut pandangnya masing-masing. Kita punya alasan atas sikap kita, sebagaimana orang lain juga punya alasan atas sikapnya. Namun, alasan tidak selalu membenarkan tindakan, dan luka yang kita rasakan pun tidak serta-merta membuat kita selalu benar.
Di sinilah kita menyadari pentingnya memiliki standar kebaikan yang sama. Standar yang tidak sekadar bergantung pada penilaian manusia, tetapi merujuk pada kebenaran yang Allah tetapkan.
Allahu Rabbi, ternyata kita tidak perlu menghabiskan hidup untuk memastikan bahwa semua orang menganggap kita baik.
Kita hanya perlu terus belajar menjadi baik menurut Allah. Berani mengakui kesalahan ketika keliru, bersabar ketika disalahpahami, dan tetap menjaga diri agar luka yang kita terima tidak membuat kita ikut melukai orang lain.
Jadi, nggak apa-apa kalau kamu tidak selalu menjadi orang baik di mata semua orang.
Kamu tidak harus memenangkan setiap cerita, meluruskan setiap prasangka, atau mendapatkan pengertian dari semua orang.
Sebab, pada akhirnya, yang paling penting bukanlah bagaimana semua orang menceritakan kita, melainkan bagaimana kita mempertanggungjawabkan diri di hadapan Allah.
Semoga Allah melembutkan hati kita untuk tidak mudah menghakimi, melapangkan dada kita ketika disalahpahami, dan membimbing kita agar tetap berbuat baik tanpa harus selalu terlihat baik di mata manusia.

Komentar
Posting Komentar